Sabtu, 21 Agustus 2010

SAKRAMEN

 
“ PERJAMUAN  KUDUS ”
 
Menurut kesaksian Alkitab, Allah menyatakan diri kepada manusia bukan hanya melalui firmanNya, tetapi juga melalui Sakramen-Sakramen yang Ia tetapkan. Di dalam gereja Kristen Protestan ada dua sakramen, yakni Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Kedua-duanya dilayankan dalam persekutuan jemaat. Salah satu pokok dalam defenisi gereja adalah “Persekutuan orang-orang kristen dimana sakramen-sakramen dilayankan sesuai dengan firman Tuhan”.
Adanya Sakramen-Sakramen dalam gereja adalah sesuai dengan perintah Tuhan Yesus. Yesus sendiri yang menetapkan Baptisan Kudus (Mat. 28 : 19-20). Dan Dia juga yang menetapkan Perjamuan Kudus supaya dirayakan/dilaksanakan sebagai “peringatan” akan Dia sampai Ia datang kembali ; (Mat. 26 : 29 ; Mark. 14 : 25 ; 1 Korit.11 : 26). Berarti, bagi gereja yang tidak melaksnakan Sakramen-Sakramen, hal itu menunjukkan bahwa gereja itu tidak taat kepada perintah Tuhan Yesus. Kalau seorang kristen tidak mau dibabtis atau tidak mau menghadiri pelaksanaan Perjamuan Kudus, berarti orang itu telah menolak perintah Tuhan Yesus di dalam hidupnya.

Perjamuan Kudus

Perjamuan Kudus adalah salah satu sakramen yang dikenal di dalam Gereja Kristen. Istilah ekaristi yang berasal dari bahasa Yunani ευχαριστω, yang berarti berterima kasih atau bergembira, lebih sering digunakan oleh gereja Katolik, Anglikan, Ortodoks Timur, dan Lutheran, sedangkan istilah Perjamuan Kudus digunakan oleh gereja Protestan. Perjamuan Kudus didasari pada makan malam terakhir Yesus dengan murid-muridnya pada malam sebelum ia ditangkap dan disalibkan (Markus 14:12-21).
Pada umumnya orang Kristen percaya bahwa mereka diperintahkan Yesus untuk mengulangi peristiwa perjamuan ini untuk memperingatinya ("... perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" - 1 Kor. 11:24, 25). Gereja-gereja Protestan umumnya lebih menekankan perjamuan sebagai peringatan akan kematian dan pengorbanan Yesus bagi umat manusia.

a. Perjamuan Kudus di antara para tokoh reformasi

1. Transubstansiasi, dicetuskan oleh gereja Roma – ada perubahan atau transformasi, yakni roti   bertransformasi menjadi tubuh Kristus secara harafiah demikian pula halnya dengan anggur bertransformasi menjadi darah Kristus. Kristus hadir secara fisik. Penekanan terletak pada: ”Inilah tubuh-Ku.”
2. Consubtansiasi yang dicetuskan oleh Luther; roti dan anggur tetaplah roti dan anggur tetapi hadirat Kristus itu nyata, melingkupi roti dan anggur. Jadi ketika kita menikmati roti, kita juga menikmati tubuh Kristus demikian pula ketika kita menikmati anggur, kita menikmati anggur dan darah Kristus.
3. Zwingli melihat perjamuan kudus itu sebagai suatu tanda. Perjamuan kudus itu untuk mengenang kematian Kristus dan kasih Kristus melalui tubuh-Nya dipecah-pecahkan dan darah-Nya tercurah. Penekanannya terletak pada: ”...sebagai peringatan akan Aku.”
4. Calvin menyatakan roti itu tetaplah roti dan anggur itu tetaplah anggur tetapi perjamuan kudus itu bukan semata-mata hanya mengenang Kristus. Tidak! Perjamuan kudus merupakan sarana anugerah dimana Kristus hadir secara rohani di dalam karya Roh Kudus sehingga dengan pengertian kebenaran dan iman maka Roh Kudus bekerja sedemikian rupa membawa kita lebih dekat pada Kristus dan masuk dalam hadirat Kristus bahkan lebih dekat ketika kita mendengar kebenaran Firman Tuhan.

b. Isu Perjamuan Perjamuan kudus masa kini

Kesaksian dari salah seorang tentang Perjamuan Kudus: 

“ gw mendaftar untuk melayani di Tiberias Center. Tapi yang anehnya gw gak dipanggil-panggil dan waktu itu pikiran negative keluar dan berkata “Apa gw gak keterima yah?”. Ga tau kenapa gw yakin banget bahwa gw pasti diterima untuk melayani di Tiberias Center. Tiap hari saat Perjamuan Kudus, gw s'lalu minta agar gw diterima melayani di Tiberias Center. Dan gw juga minta didoakan oleh Ev. Marlo Mamangkey agar diterima. Finally mujizat terjadi!!!! 2 minggu kemudian gw diterima buat pelayanan. Setelah itu, gw makin sering Perjamuan Kudus dan pakai Minyak Urapan, Kuasa TUHAN YESUS benar-benar gw rasakan, yang tadinya gw sering banget kena penyakit tapi karena kuasa Tubuh dan Darah Yesus dan Minyak Urapan sekarang gw udah ga kena penyakit lagi. Ada 2 hal yang sangat yakini bahwa rancangan TUHAN buat gw adalah rancangan yang paling indah bukan rancangan kecelakaan tapi rancangan damai sejahtera yang membawa kita ke masa depan yang penuh harapan, dan Perjamuan Kudus serta Minyak Urapan mempunyai kuasa yang luar biasa besar, sampai hari ini gw bisa ngerasain mujizat-NYA setiap hari dan kasih-NYA slalu menaungi gw karena gw percaya yang ada minyak dan anggur tidak akan dirusakkan! AMIN!”
Alasan dalam melakukan Perjamuan Kudus dalam gereja Teberias : “Perintah Tuhan Yesus untuk membangun Gereja yang penuh kuasa untuk mengembalikan kuasa Perjamuan Kudus & Minyak Urapan. Tuhan Yesus memberi perintah kepada Gereja Tiberias untuk membuktikan kuasa-kuasa dan mujizat-mujizat Allah dengan pelayanan-pelayanan seperti zaman Kisah Para Rasul (Kisah 2:17-19), dengan ciri-ciri yaitu Pelayanan yang penuh kuasa dan mujizat Allah. Kuasa di balik sakramen-sakramen Perjamuan Kudus (Kisah 2:42-43) & Minyak Urapan, sakramen Baptisan Selam, Perkawinan dan Penyerahan Anak. Begitu bertobat, bertemu dengan Allah yang punya Kerajaan Sorga, saya (Pdt. DR. Yesaya Pariadji) dipanggil menghadap Tahta Allah, diperintahkan untuk membangun Gereja”.

c. Tanggapan Tentang Isu Perjamuan Kudus.

Ada beberapa hal kurang setuju dengan pandangan Beliau Pdt. Pariadji, seperti pernyataannya demikian:
Pertama, Pdt. Pariadji menuliskan “Hanya Pendeta yang bisa menyembuhkan” (Warta Jemaat GBI Tiberias, no. 640, 18Maret 2001). Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa hanya seorang pendeta saja yang bisa menyembuhkan.
Kedua, . Tampak sekali dalam pengajaran Pdt. Pariadji, Yesus mestinya menjadi sentral hidup dan pengajaran orang Kristen digeser dan diganti dengan minyak urapan dan perjamuan kudus bahkan ke dirinya sendiri. Oleh Pdt. Pariadji perjamuan kudus dan minyak urapan dipromosikan (seluruh isi buletin yang dibuat Pdt. Pariadji bertuliskan “dengan kuasa minyak urapan”, “dengan kuasa perjamuan kudus”. Mengapa bukan “Tuhan
yang berkuasa” tapi “minyak urapan yang berkuasa?” Minyak urapan oleh Pdt. Pariadji telah diubah menjadi jimat yang tidak saja bisa dipakai untuk menyembuhkan penyakit apa pun, tapi juga: melancarkan saluran-saluran air yang mampet (Warta Jemaat GBI Tiberias 18 Februari 2001). Pdt. Pariadji secara gencar setiap Minggu mengiklankan Perjamuan Kudus dan minyak urapannya di koran “Suara Pembaharuan” dan media lain. Kita harus kembali ke Alkitab. Menurut Alkitab perjamuan kudus tidak boleh diiklankan dan dipromosikan menjadi semacam jimat ampuh untuk menyembuhkan. Rasul Paulus telah membahas hal ini secara khusus dalam 1 Korintus 11:17-34. Hal ini Paulus lakukan karena telah melihat penyimpangan makna perjamuan kudus sebagaimana ditetapkan Tuhan Yesus. Dalam keseluruhan ayat di atas, juga dalam seluruh Alkitab PB kita tidak menemukan satu pun upacara perjamuan kudus dilakukan untuk tujuan penyembuhan.
Pengajaran yang demikian mana ayatnya? Soal argumentasi, bahwa banyak juga orang yang sembuh dengan minyak urapan, Mangapul Sagala, M.Th. (Majalah Dia, edisi 1/2001) dengan jelas menuliskan: Mungkin ada yang berkata, “Tetapi kenyataannya kan ada juga yang sembuh?” Soal sembuh atau tidak bukan itu yang terutama, tapi kebenaran firman Tuhan harus diberitakan, iman jemaat dibangunkan. Soal penyembuhan, dukun pun dapat menyembuhkan. Bahkan menyedihkan sekali, karena dukun tersebut memakai ayat-ayat firman Tuhan juga, memegang salib juga serta mengangkat-angkatnya dalam proses penyembuhan tersebut. Dan lagi, kalau iman jemaat diserongkan, dari pribadi Kristus kepada kesembuhan, bukankah setan dan kuasa kegelapan pun akan senang membantunya? Itulah sebabnya saya bersyukur mendengar kesaksian seorang ibu yang sudah divonis dokter mengidap kanker, tetapi tetap menolak untuk pergi ke kebaktian (yang diadakan oleh Pdt. Pariadji, red). Alasannya, “Saya tidak sejahtera dengan pengajarannya, juga dengan cara mengadakan perjamuan kudus yang direndahkan dari maknanya.”

KESIMPULAN

Perjamuan Kudus mempunyai isi dan arti yang sama dengan Baptisan yang telah kita terima. Di mana dalam Baptisan kita, oleh pekerjaan Roh Kudus kita mendapat bagian dalam karya penyelamatan Allah. Demikian juga dalam Perjamuan Kudus, kita juga oleh pekerjaan Roh Kudus mendapat bagian dalam karya penyelamatan Allah. (Band. Rom. 6 : 3-8).
Perjamuan Kudus memberitakan anugerah Allah kepada kita. Kita makan roti dan minum anggur dalam Perjamuan Kudus, kita mengingat dan menghayati bahwa Yesus menjadi manusia supaya tubuh manusiawi itu disalibkan, Ia menderita dan mati di kayu salib untuk menciptakan tubuh baru yaitu jemaatNya. Darah Kristus dicurahkan di kayu salib untuk pengampunan segenap dosa-dosa kita.
Darah Kristus adalah kehidupan yang dicurahkan untuk memberi hidup bagi kita. Kita minum Cawan itu untuk mengingat bahwa Yesus sendiri telah minum Cawan murka Allah sehingga kita memperoleh keampunan dosa kita.
Dengan merayakan Perjamuan Kudus, kita diingatkan pula bahwa Yesus sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa untuk membela kita, dan Ia akan datang kembali untuk membawa (mengumpulkan) orang-orang yang percaya untuk mengadakan Perjamuan Agung di dalam Kerajaan Allah, (Band. Mark. 16 : 19 ; Wahyu 21 : 3 – 7).

Selasa, 10 November 2009

Beyond Belief


Haruskah Injil Thomas Mengantikan Injil Yohanes?


PENGANTAR
Adu pendapat keristenan Versus Gnostisisme. Gnostisisme mengajarkan bahwa pada mulanya ada Tuhan, , yang sempurna, Roh, yang menciptakan ,manusia pertama, yang merupakan seorang pribadi yang terbentuk oleh terang. Sayangnya, manusia ini jatuh ke dalam dosa, yang membuat tubuhnya tercerai berai menjadi partikel-partikel retang yang sangat banyak jumlahnya, yang kemudian disemai dalam jiwa-jiwa manusia dunia yagn gelap ini. Masalah yang dihadapi oleh manusia, oleh karenanya, adalah perjuang bagi para individu untuk mengingat asal-usul surgawi jiwa mereka. Tuhan memecahkan maslah ini dengan mengirimkan anakNya, Yesus Kristus, Sang penebus, yang tugasnya adalah menyampaikan pengetahuan ini (Gnosis) kepada orang-orang, setelah mengingat hakikat mereka yagn sesungguhnya, jiwa-jiwa itu dibimbing kembali ke rumah sorgawi mereka, tidak lagi dikekang oleh tubuh mereka yang penuh dosa. Gnostisisme mengacu pada gnosis, atau pengetahuan, yaitu pengetahuan yang asal-usulnya sepenuhnya bersifat rohani, dan bukan fisik. Oleh sebab itu tujuannya adalah membebaskan jiwa dari penjara tubuh dan kembali kekehidupan roh.
Pengajaran seperti ini menciptakan akibat yang serius terhadap kekristenan tradisional, karena: menyangkal aspek kemanusiaan Yesus, menyangkal tindakan Tuhan menjadi manusia dalam diri Yesus (1 Yoh 1:1; 2:22; 4:2-3).
Salah satu tulisan paling menarik yang ditemukan di Nag Hammadi adalah Injil Thomas, suatu Injil yang dilaporkan ditulis oleh Rasul Thomas dan terdiri atas sekitar 114 perkataan Yesus. Injil Thomas mengajarkan bahwa kebenaran bukanlah pewahyuan dari Tuhan yang berada diluar manusia. Namun kebenaran mengenai Tuhan ada di dalam manusia, yang menunggu untuk ditemukan dan dialami. Inti dari pengajaran itu adalah bahwa orang-orang Kristen merupakan Kristus itu sendiri, yang baru saja diciptakan dalam gambaran Allah.
Orang harus mendukung kekristenan tradisional atau Gnostisisme. Haruskah menggantikan Injil Yohanes dengan Injil Thomas? Untuk menjawab ini, akan diungkapan empat asumsi.

OTORITAS : DARI MANA ASALNYA?

Injil Thomas mendorong pembaca untuk tidak percaya kepada Yesus., pertama, berusaha untuk mengetahui Tuhan melalui kemampuan mereka sendiri yang diberikan secara ilahi, karena mereka semuanya diciptakan dalam gambaran Allah. Kedua, mengharapkan kepada kita untuk mengetahui hakekat diri kita sendiri agar kita tahu bahwa kita adalah anak-anak Allah yang hidup. Jika tidak demikian, kita akan hidup dalam kemiskinan. Ketiga, menyamakan manusia dengan Kristus dengan menyatakan bahwa siapa pun yang minum dari mulut Kristus akan menjadi sama dengan Kristus. Keempat, orang harus mengetahui dirinya sendiri agar mampu memahami hakekat segala sesuatu.
Pagels menyatakan bahwa Injil-injil sinoptik bertetangan dengan Injil Yohanes dan juga dengan Injil Thomas. Meskipun demikian, gambaran yang nyata yang muncul adalah Injol-injil Sinoptik sangat mirip dengan Injil Yohanes dalam deskripsi keempat Injil tersebut mengenai Yesus dansecara bersama-sama penjelasan keempat Injil tersebut bertentangan dengan penjelasan Injil Thomas mengenai Yesus yang bersifat Gnostik.
Kesimpulan yang perlu ditarik dari semuanya ini adalah bahwa kekristenan tradisonal nampak sebagai pandangan yang begitu dominan dari kekristenan mula-mula, yang dimulai dari jaman Perjanjian Baru dan dilanjutkan oleh para bapa gereja sampai ke konseli Nicea pada tahun 325 M dan zaman-zaman berikutnya. Sebagai pembanding, Gnostisisme dan tulisan-tulisan yang dilahirkannya (Injil Thomas dan lima puluh dokumen apokrifa lainya yang ditemukan di Nag Hammadi pada tahun 1945) adalah pandangan beberapa orang yang berpandangan ekstrem yagn pesanya ditolak oleh gereja kolektif dengan alasan yang baik.
Ada dua cara untuk menjelaskannya keotoritasan Injil. Pertama, kapan kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru diakui sebagai tulisan-tulisan yang diilhamkan oleh Roh Kudus ? tahun 200 M. sebelum itu gereja-gereja membaca dan para bapa gereja memberikan kotbah yang didasarkan pada kedua puluh tujuh kitab yang sekarang menjadi isi kitab PB. Kedua, ada lima pertannya yaitu : Apakah kitab tersebut memiliki otoritas kerasulan? Apakah tulisan yang dimaksud sudah ada sejak abad pertama Masehi? Apakah tulisan tersebut memdukung aliran tradisional? Apakah kitab tersebut dibaca digereja? Apakah umat Tuhan menyadari bahwa kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus?

ANTROPOLOGI : APAKAH HAKEKAT MANUSIA ?

Dasar penolakan Injil Thomas terhadap pewahyuan sebagai sumber kebenaran dan otoritas : memiliki sumber kebenaran dan otoritas dalam diri mereka sendiri . keyakinan itu bersumber dari asumsi Gnostik bahwa tidak ada dosa keturunan yang diwariskan sejak jangan Adam.
Injil Thomas pembedaan laki-laki dan perempuan bukanlah suatu yang ilahi pada mulanya. Manusia pertama bersifat hermafrodit yaitu tanpa pembedaan jenis kelamin. Tujuan manusia adalah kembali kekeadan yang merupakan karakter rohani yang sejati.

METODOLOGI: BAGAIMANA KITA SEHARUSNYA MENAFSIRKAN INJIL YOHANES DAN, TERKAIT DENGAN HAL ITU,ALKITAB SENDIRI?

Analisis kritis atau penafsiran orang Yahudi, didasarkan pada pendekatan harfiah ( pesbat) untuk membaca Alkitab.Tujuan metode ini untuk memahami apa yang dimaksud oleh para penulis aslidalam tulisan mereka. Proses untuk menemukan maksud pengarang dalam teks Alkitab mencakup; menempatkan tulisan dalam latar belakang sejarahnya, mengidentifikasikan latar belakang budaya teks tersebut dan menganalisis tata bahasanya. mengetahui

MORALITAS: APA YANG AKAN TERJADI PADA PRINSIP-PRINSIP MORAL GEREJA JKA INJIL THOMAS MARAK?

Membahas Gnostisisme kuno, para ahli Alkitab telah lama memperhatikan bahwa pandangan Gnostik yang menyangkal tubuh menciptakan dua prinsip moral yang bertentangan : askesisme (menyangkal diri atau memberikan pengakuan yang buruk terhadap tubuh). Dan libartinisme ( lakuan apapun yang ingin anda lakukan karena bagaimanapun tubuh itu penting).

KESIMPULAN

Injil Thomas tidak memenuhi lima criteria yang tentukan oleh kekritenan tradisional untuk menentukan layak atau tidaknya sebuah kitab dimasukan ke dalam kitab kanon. Selain itu Injil Thomas bukanlah sebuah dokumen yang muncul pada zaman yang sama dengan keempat Injil.
Ada usaha Pagels memilki misi tradisional untuk menggantikan kekeristenan tradisional dengan Gnostisisme. Jika kekristenan tradisional mengalami kekalah dalam pertarungan ini, iman dan tradisi Kristen sebagaimana yang kita kenal akan tersingkir dan merusakan yang terjadi pada para individu dan masyarakat secara keseluruhan akan sungguh-sungguh.

Minggu, 08 November 2009

Cari Blog Ini

Apakah artikel ini menjadi berkat bagi Saudara?